"Jika Kau menginginkan cinta dari seseorang, tunjukan cintamu Cinta
tidak membutuhkan keraguan, Tunjukan saja !!"
TOM
Alasan mengapa orang2 memanggilku "Tom" karena saat jaman interkom dulu, panggilanku di udara adalah Tom.
Aku telah berpacaran sebanyak 5 orang wanita ketika aku masih di SMA. Ada satu wanita yang
aku sangat aku cintai, tapi aku tidak punya keberanian untuk
mengatakannya. Dia tidak memiliki wajah yang cantik, tubuh yang sexy,
dsb, dia hanya wanita biasa saja.
Aku menyukainya, sangat menyukainya, menyukai gayanya yang innocent,
imutnya, aku menyukai kepandaiannya dan kekuatannya. Alasan aku tidak
mengajaknya kencan karena aku merasa dia yang sangat biasa dan tidak
serasi untukku. Aku juga takut, jika kami bersama semua perasaan yang
indah ini akan hilang. Aku juga takut kalau gosip2 yang ada akan
menyakitinya. Aku merasa dia adalah "sahabatku" dan aku akan memilikinya
tiada batasnya dan aku tidak harus memberikan semuanya hanya untuk dia.
Alasan yang terakhir, membuat dia menemaniku selama 3 tahun ini. Dia
tau aku mengejar gadis2 lain, dan aku telah membuatnya menangis selama 3
tahun.
Ketika aku mencium pacarku yang kedua, dan terlihat olehnya. Dia hanya
tersenyum dengan berwajah merah dan berkata "lanjutkan saja" dan
setelah itu pergi meninggalkan kami. Esoknya, matanya bengkak .. dan merah ..
Aku sengaja tidak mau memikirkan apa yang menyebabkannya menangis, but
aku tertawa dengannya seharian. Ketika semuanya telah pulang, dia
sendirian di kelas untuk menangis. Dia tidak tau bahwa aku kembali dari
latihan sepakbola untuk mengambil sesuatu di kelas, dan aku melihatnya
menangis selama sejam-an.
Pacarku yang ke-4 tidak menyukainya. Pernah sekali mereka berdua perang
dingin, aku tahu bukan sifatnya untuk memulai perang dingin. Tapi aku
masih tetap bersama pacarku. Aku berteriak padanya dan matanya penuh
dengan air mata sedih dan kaget. Aku tidak memikirkan perasaannya dan
pergi meninggalkannya bersama pacarku. Esoknya masih tertawa dan
bercanda denganku seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya. Aku tau
bahwa dia sangat sedih dan kecewa tapi dia tidak tahu bahwa sakit hatiku
sama buruknya dengan dia, aku juga sedih.
Ketika aku putus dengan pacarku yang ke 5, aku mengajaknya pergi.
Setelah kencan satu hari itu, aku mengatakan bahwa ada sesuatu yang
ingin kukatakan padanya. Dia mengatakan bahwa kebetulan sekali bahwa
dia
juga ada sesuatu yang ingi dia katakan pada ku. Aku cerita padanya
tentang putusnya aku dengan pacarku dan dia berkata tentang dia sedang
memulai suatu hubungan dengan seseorang. Aku tau pria itu. Dia sering
mengejarnya selama ini. Pria yang baik, penuh energi dan menarik.
Aku tak bisa memperlihatkan betapa sakit hatinya aku, tapi hanya bisa
tersenyum dan mengucapkan selamat padanya. Ketika aku sampai dirumah,
sakit hatiku bertambah kuat dan aku tidak dapat menahannya. Seperti ada
batu yang sangat berat didadaku. Aku tak bisa bernapas dan ingin
berteriak namun tidak bisa.
Air mata mengalir dan aku jatuh menangis. Sudah sering aku melihatnya
menangis untuk pria yang mengacuhkan kehadirannya. Ketika upacara
kelulusan, aku membaca secarik kertas yang dikirimnya 10 hari yang
lalu ketika aku sedih dan menangis.
Dalam kertas itu berbunyi, "Daun terbang karena Angin bertiup atau karena Pohon
tidak memintanya untuk tinggal".
DULU stasion kereta api Cibatu merupakan sarana transfortasi utama, baik bagi masyarakat maupun kunjungan kenegaraan yang dipergunakan menuju kota kabupaten Garut, termasuk presiden pertama Ir. Soekarno ketika datang ke Kabupaten Garut, sehingga memberi gelar Garut sebagi kota Intan, di tanah Cibatu lah Soekarno pertama menginjakan kakinya
Rabu, 18 Agustus 2010
Selasa, 17 Agustus 2010
Ketika Hari Kemerdekaan Kehilangan Ruhnya
Mungkin karena bertepatan dengan bulan suci ramadhan, peringatan hari kemerdekaan 17 Agustus 2010 ini tidaklah sesemarak tahun-tahun sebelumnya. Hampir disemua tempat tidak ditemukan kegiatan yang menjadi trademark agustusan, seperti lomba-lomba yang melibatkan anak-anak. Bahkan anehnya, tak ada satupun gapura dipintu jalan yang dihiasi pernak-pernik kertas, maupun bentangan bendera kecil yang memanjang dari satu gang ke gang lainya.
Terlalu naif memang, jika sepinya hari bersejarah ini dihubungkan dengan berlangsungnya umat muslim sedang menjalankan ibadah puasa. Bukankah hari kemerdekaan itu dibacakan sang proklamator bertepatan dengan bulan ramadhan juga.
Artinya, kita haruslah berani mengatakan dengan penuh kejujuran bahwa hari yang bersejarah 65 tahun lalu itu, sudah tidak memiliki tempat lagi dihati kita masing-masing. Kalaupun bendera merah putih terpasang di perkantoran, atau pelaksanaan upacara yang dilaksanakan oleh masing-masing intansi, tentunya tak lebih dari sebuah agenda seremonial saja. Dan, kita tak perlu malu untuk mengatakan sepulangnya mengikuti upacara tersebut kita sudah tidak mengingat lagi apa yang telah kita laksanakan.
Rasanya tidak berlebihan, jika peringatan hari kemerdekaan negeri Indonesia tercinta ini benar-benar telah kehilangan ruhnya. Tak ada getaran apapun tatkala kita menemui moment hari yang tidak mudah diraih kala itu. Inilah yang disebut ancaman bahaya latin yang datangnya dari kita sendiri. Suatu bentuk kehancuran negara tanpa melalui serangan kelompok tertentu, tetapi oleh sebuah virus hilangnya rasa nasionalisme yang menggerogoti selurah jiwa bangsa ini.
Kita memang dihadapkan oleh kehidupan yang serba kompleks. Semua berlomba untuk mempertahankan hidup, sehingga kita pun tak sempat menempatkan peran sebagai pengemban estapet para kreator negri. Pengusaha sibuk dengan pengembangan usahanya, para politisi sibuk dengan kepentingannya, petani sibuk dengan ladangnya, pegawai sibuk dengan kenaikan pangkatnya, dan pendidik sibuk dengan sertifikasinya.
Tak Terdengar lagi Cerita Bambu Runcing..!!
Apresiasi memperingati hari kemerdekaan jaman dulu memang berbeda. Nuansa perjuangan kemerdekaan begitu kental disetiap daerah. Mulai dari karnaval, lomba-lomba, apresiasi seni atau panggung hiburan kerap menjadi bagian agustusan. Kebersamaan dibangun dengan semangat kuat. Sekedar contoh saja, saat membuat panggung hiburan, masyarakat berjibaku mengumpulkan bambu dan drum untuk merancang panggung tersebut. Sajian yang dipertontonkan pun sebuah drama perjuangan hasil karya mereka. Cukup dengan lampu obor atau petromak untuk penerangan, masyarakat begitu menikmati di pesta peringatan kemerdekaan itu.
Bandingkan dengan kondisi sekarang. Dari kebutuhan biaya saja, cukup melayangkan sebuah proposal ke beberapa pengusaha atau intansi. Bahkan, hampir menjadi pemandangan di jalan dengan meminta uang ke setiap pengendara bermotor yang melintas. Membuat panggung pun tak perlu repot mengambil bambu di kebun atau meminjam drum ke warung-warung warga yang menjual minyak tanah. Seperangkat alat panggung dan tenda telah tersedia ditempat penyewaan. Tanpa maksud mengurangi rasa semangat para generasi jaman sekarang. Kehidupan yang serba instans memang telah menjadi bagian jaman ini. Dalam memperingati hari kemerdekaan sudah tidak ada cerita lagi tentang bambu runcing, tentang drama yang mengisahkan perjuangan Mohamad Toha, RA Kartini, Pangeran Dipenogoro, atau pejuang lainnya. Kini lebih memilih hiburan musik yang didatangkan dari luar dan mereka hanya sebagai penonton.
Kita tak perlu memandangnya sebuah idealisme, tetapi kita tentunya rindu akan cerita-cerita orang tua kita dahulu, rindu akan nyanyian perjuangan, rindu dengan cerita bambu runcing yang terbalut merah putih. Tentunya kita pun akan lebih bangga lagi, tatkala anak-anak kita yang memainkan drama mengisahkan perjuangan diatas panggung, menyanyikan lagu sepasang mata bola, selendang sutra, tiga malam, ataupun semalam di Cianjur.
Tahun depan, jika Allah SWT masih memberikan kesempatan kita hidup, tak ada salahnya kita melanjutkan kembali menjadi tokoh estapet dari sebuah hari kemerdekaan. Anggap saja, hari ini dan kemarin kita tertidur dan terlalu asyik menikmati kemerdekaan ini, sehingga kita lupa telah diberikan sebuah amanah.”Kemerdekaan ini diperoleh bukanlah dari sebuah hadiah, tetapi merupakan hasil dari perjuangan”.
Salam untuk Negeri Tercinta
Tata E. Ansorie
Terlalu naif memang, jika sepinya hari bersejarah ini dihubungkan dengan berlangsungnya umat muslim sedang menjalankan ibadah puasa. Bukankah hari kemerdekaan itu dibacakan sang proklamator bertepatan dengan bulan ramadhan juga.
Artinya, kita haruslah berani mengatakan dengan penuh kejujuran bahwa hari yang bersejarah 65 tahun lalu itu, sudah tidak memiliki tempat lagi dihati kita masing-masing. Kalaupun bendera merah putih terpasang di perkantoran, atau pelaksanaan upacara yang dilaksanakan oleh masing-masing intansi, tentunya tak lebih dari sebuah agenda seremonial saja. Dan, kita tak perlu malu untuk mengatakan sepulangnya mengikuti upacara tersebut kita sudah tidak mengingat lagi apa yang telah kita laksanakan.
Rasanya tidak berlebihan, jika peringatan hari kemerdekaan negeri Indonesia tercinta ini benar-benar telah kehilangan ruhnya. Tak ada getaran apapun tatkala kita menemui moment hari yang tidak mudah diraih kala itu. Inilah yang disebut ancaman bahaya latin yang datangnya dari kita sendiri. Suatu bentuk kehancuran negara tanpa melalui serangan kelompok tertentu, tetapi oleh sebuah virus hilangnya rasa nasionalisme yang menggerogoti selurah jiwa bangsa ini.
Kita memang dihadapkan oleh kehidupan yang serba kompleks. Semua berlomba untuk mempertahankan hidup, sehingga kita pun tak sempat menempatkan peran sebagai pengemban estapet para kreator negri. Pengusaha sibuk dengan pengembangan usahanya, para politisi sibuk dengan kepentingannya, petani sibuk dengan ladangnya, pegawai sibuk dengan kenaikan pangkatnya, dan pendidik sibuk dengan sertifikasinya.
Tak Terdengar lagi Cerita Bambu Runcing..!!
Apresiasi memperingati hari kemerdekaan jaman dulu memang berbeda. Nuansa perjuangan kemerdekaan begitu kental disetiap daerah. Mulai dari karnaval, lomba-lomba, apresiasi seni atau panggung hiburan kerap menjadi bagian agustusan. Kebersamaan dibangun dengan semangat kuat. Sekedar contoh saja, saat membuat panggung hiburan, masyarakat berjibaku mengumpulkan bambu dan drum untuk merancang panggung tersebut. Sajian yang dipertontonkan pun sebuah drama perjuangan hasil karya mereka. Cukup dengan lampu obor atau petromak untuk penerangan, masyarakat begitu menikmati di pesta peringatan kemerdekaan itu.
Bandingkan dengan kondisi sekarang. Dari kebutuhan biaya saja, cukup melayangkan sebuah proposal ke beberapa pengusaha atau intansi. Bahkan, hampir menjadi pemandangan di jalan dengan meminta uang ke setiap pengendara bermotor yang melintas. Membuat panggung pun tak perlu repot mengambil bambu di kebun atau meminjam drum ke warung-warung warga yang menjual minyak tanah. Seperangkat alat panggung dan tenda telah tersedia ditempat penyewaan. Tanpa maksud mengurangi rasa semangat para generasi jaman sekarang. Kehidupan yang serba instans memang telah menjadi bagian jaman ini. Dalam memperingati hari kemerdekaan sudah tidak ada cerita lagi tentang bambu runcing, tentang drama yang mengisahkan perjuangan Mohamad Toha, RA Kartini, Pangeran Dipenogoro, atau pejuang lainnya. Kini lebih memilih hiburan musik yang didatangkan dari luar dan mereka hanya sebagai penonton.
Kita tak perlu memandangnya sebuah idealisme, tetapi kita tentunya rindu akan cerita-cerita orang tua kita dahulu, rindu akan nyanyian perjuangan, rindu dengan cerita bambu runcing yang terbalut merah putih. Tentunya kita pun akan lebih bangga lagi, tatkala anak-anak kita yang memainkan drama mengisahkan perjuangan diatas panggung, menyanyikan lagu sepasang mata bola, selendang sutra, tiga malam, ataupun semalam di Cianjur.
Tahun depan, jika Allah SWT masih memberikan kesempatan kita hidup, tak ada salahnya kita melanjutkan kembali menjadi tokoh estapet dari sebuah hari kemerdekaan. Anggap saja, hari ini dan kemarin kita tertidur dan terlalu asyik menikmati kemerdekaan ini, sehingga kita lupa telah diberikan sebuah amanah.”Kemerdekaan ini diperoleh bukanlah dari sebuah hadiah, tetapi merupakan hasil dari perjuangan”.
Salam untuk Negeri Tercinta
Tata E. Ansorie
Surat dari...ALLAH
Untukmu yang selalu Kucintai,
Saat kau bangun di pagi hari, Aku memandangmu dan
berharap engkau akan berbicara kepadaKu., bercerita,
meminta pendapatKu, mengucapkan sesuatu untukKu
walaupun hanya sepatah kata.
Atau berterimakasih kepadaKu atas sesuatu hal yang
indah yang terjadi dalam hidupmu tadi malam, kemarin,
atau waktu yang lalu….
Tetapi Aku melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan
diri untuk pergi bekerja…
Tak sedikitpun kau menyadari Aku di dekat mu.
Aku kembali menanti saat engkau sedang bersiap,
Aku tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti
dan menyapaKu, tetapi engkau terlalu sibuk…
Di satu tempat, engkau duduk tanpa melakukan apapun.
Kemudian Aku melihat engkau menggerakkan kakimu.
Aku berfikir engkau akan datang kepadaKu, tetapi engkau
berlari ke telepon dan menelepon seorang teman untuk sekedar berbincang-bincang.
Aku melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan Aku
menanti dengan sabar sepanjang hari. Namun dengan
semua kegiatanmu Aku berfikir engkau terlalu sibuk
untuk mengucapkan sesuatu kepadaKu.
Sebelum makan siang Aku melihatmu memandang ke
sekeliling, mungkin engkau merasa malu untuk berbicara
kepadaKu, itulah sebabnya mengapa engkau tidak sedikitpun menyapaKu.
Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan
melihat beberapa temanmu berbicara dan menyebut namaKu
dengan lembut sebelum menyantap makanan yangKuberikan,
tetapi engkau tidak melakukannya…..
Yah, tidak apa-apa masih ada waktu yang tersisa dan
Aku masih berharap engkau akan datang kepadaKu,
meskipun saat engkau pulang ke rumah kelihatannya
seakan-akan banyak hal yang harus kau kerjakan.
Setelah tugasmu selesai, engkau menyalakan TV, Aku
tidak tahu apakah kau suka menonton TV atau tidak,
hanya saja engkau selalu ke sana dan menghabiskan banyak
waktu setiap hari di depannya, tanpa memikirkan apapun
dan hanya menikmati acara yang ditampilkan, hingga waktu- waktu untukKu terlupakan.
Kembali Aku menanti dengan sabar saat engkau menikmati
makananmu tetapi kembali engkau lupa menyebut namaKu
dan berterimakasih atas makanan yang telah Kuberikan.
Saat tidur Kupikir kau merasa terlalu lelah.
Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu,
kau melompat ke tempat tidur dan tertidur tanpa
sepatahpun namaKu kau sebut. Tidak apa-apa karena mungkin
engkau masih belum menyadari bahwa Aku selalu hadir untukmu.
Aku telah bersabar lebih lama dari yang kau sadari.
Aku bahkan ingin mengajarkan bagaimana bersabar terhadap orang lain.
Aku sangat menyayangimu, setiap hari Aku menantikan
sepatah kata darimu, ungkapan isi hatimu, namun tak kunjung tiba.
Baiklah….. engkau bangun kembali dan kembali Aku
menanti dengan penuh kasih bahwa hari ini kau akan
memberiKu sedikit waktu untuk menyapaKu…
Tapi yang Kutunggu … ah tak juga kau menyapaKu.
Subuh, Dzuhur, Asyar, Magrib, Isya dan Subuh lagi
kau masih mengacuhkan Aku.
Tak ada sepatah kata, tak ada seucap do’a, tak ada
pula harapan dan keinginan untuk bersujud kepadaKU….
Apakah salahKu padamu …? Rizki yang Kulimpahkan,
kesehatan yang Kuberikan, Harta yang Kurelakan,makanan
yang Kuhidangkan , Keselamatan yang Kukaruniakan,
kebahagiaan yang Kuanugerahkan, apakah hal itu tidak
membuatmu ingat kepadaKu ???
Percayalah, Aku selalu mengasihimu, dan Aku tetap
berharap suatu saat engkau akan menyapaKu, memohon
perlindunganKu, bersujud menghadapKu … Kembali kepadaKu.
Yang selalu menyertaimu setiap saat,
ALLAH
Saat kau bangun di pagi hari, Aku memandangmu dan
berharap engkau akan berbicara kepadaKu., bercerita,
meminta pendapatKu, mengucapkan sesuatu untukKu
walaupun hanya sepatah kata.
Atau berterimakasih kepadaKu atas sesuatu hal yang
indah yang terjadi dalam hidupmu tadi malam, kemarin,
atau waktu yang lalu….
Tetapi Aku melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan
diri untuk pergi bekerja…
Tak sedikitpun kau menyadari Aku di dekat mu.
Aku kembali menanti saat engkau sedang bersiap,
Aku tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti
dan menyapaKu, tetapi engkau terlalu sibuk…
Di satu tempat, engkau duduk tanpa melakukan apapun.
Kemudian Aku melihat engkau menggerakkan kakimu.
Aku berfikir engkau akan datang kepadaKu, tetapi engkau
berlari ke telepon dan menelepon seorang teman untuk sekedar berbincang-bincang.
Aku melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan Aku
menanti dengan sabar sepanjang hari. Namun dengan
semua kegiatanmu Aku berfikir engkau terlalu sibuk
untuk mengucapkan sesuatu kepadaKu.
Sebelum makan siang Aku melihatmu memandang ke
sekeliling, mungkin engkau merasa malu untuk berbicara
kepadaKu, itulah sebabnya mengapa engkau tidak sedikitpun menyapaKu.
Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan
melihat beberapa temanmu berbicara dan menyebut namaKu
dengan lembut sebelum menyantap makanan yangKuberikan,
tetapi engkau tidak melakukannya…..
Yah, tidak apa-apa masih ada waktu yang tersisa dan
Aku masih berharap engkau akan datang kepadaKu,
meskipun saat engkau pulang ke rumah kelihatannya
seakan-akan banyak hal yang harus kau kerjakan.
Setelah tugasmu selesai, engkau menyalakan TV, Aku
tidak tahu apakah kau suka menonton TV atau tidak,
hanya saja engkau selalu ke sana dan menghabiskan banyak
waktu setiap hari di depannya, tanpa memikirkan apapun
dan hanya menikmati acara yang ditampilkan, hingga waktu- waktu untukKu terlupakan.
Kembali Aku menanti dengan sabar saat engkau menikmati
makananmu tetapi kembali engkau lupa menyebut namaKu
dan berterimakasih atas makanan yang telah Kuberikan.
Saat tidur Kupikir kau merasa terlalu lelah.
Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu,
kau melompat ke tempat tidur dan tertidur tanpa
sepatahpun namaKu kau sebut. Tidak apa-apa karena mungkin
engkau masih belum menyadari bahwa Aku selalu hadir untukmu.
Aku telah bersabar lebih lama dari yang kau sadari.
Aku bahkan ingin mengajarkan bagaimana bersabar terhadap orang lain.
Aku sangat menyayangimu, setiap hari Aku menantikan
sepatah kata darimu, ungkapan isi hatimu, namun tak kunjung tiba.
Baiklah….. engkau bangun kembali dan kembali Aku
menanti dengan penuh kasih bahwa hari ini kau akan
memberiKu sedikit waktu untuk menyapaKu…
Tapi yang Kutunggu … ah tak juga kau menyapaKu.
Subuh, Dzuhur, Asyar, Magrib, Isya dan Subuh lagi
kau masih mengacuhkan Aku.
Tak ada sepatah kata, tak ada seucap do’a, tak ada
pula harapan dan keinginan untuk bersujud kepadaKU….
Apakah salahKu padamu …? Rizki yang Kulimpahkan,
kesehatan yang Kuberikan, Harta yang Kurelakan,makanan
yang Kuhidangkan , Keselamatan yang Kukaruniakan,
kebahagiaan yang Kuanugerahkan, apakah hal itu tidak
membuatmu ingat kepadaKu ???
Percayalah, Aku selalu mengasihimu, dan Aku tetap
berharap suatu saat engkau akan menyapaKu, memohon
perlindunganKu, bersujud menghadapKu … Kembali kepadaKu.
Yang selalu menyertaimu setiap saat,
ALLAH
Minggu, 15 Agustus 2010
Mengenal Silsilah Kecamatan Cibatu
CIBATU merupakan salah satu nama kecamatan di kabupaten Garut. Kecamatan Cibatu adalah pusat Kewedanaan di wilayah Garut utara sejak jaman Belanda hingga dihilangkannya sistem wilayah Kewedanaan.
Kecamatan Cibatu pun memiliki sejarah perjuangan yang sangat panjang dimasa kemerdekaan republik Indonesia, sehingga wajar masyarakat Cibatu disebut paling pertama mendapatkan kemajuan perkembangan ekonomi, pendidikan dan teknologi, sebab kecamatan Cibatu merupakan pusat transit transportasi menuju seluruh wilayah kabupaten Garut dengan adanya stasion kereta api yang menjadi inti bagian sejarah kabupaten Garut itu sendiri.
Kemajuan intelektualitas masyarakat Cibatu telah menorehkan sejumlah nama yang berkifrah di berbagai bidang, seperti Achdiat Kartamihardja, penulis novel (Atheis,1908) terkenal di dunia yang kini bermukim di Australia. Surachman RM (1936), penyair liris yang melahirkan puisi-puisi lembut dalam bahasa Indonesia, walaupun sehari-hari bekerja sebagai Jaksa di Kejaksaan Agung. Mashudi mantan gubernur Jawa Barat (1962-1973), bahkan bupati kabupaten Bandung H. Obar Sobarna (sekarang) merupakan putra kelahiran Cibatu.
Kecamatan Cibatu juga menyandang atribut sebagai kota tua, kota pelajar dan kota pensiunan.
Asal usul nama Cibatu sampai saat ini masih simpang siur, sebab belum ada bukti sejarah yang menguatkan kapan nama Cibatu dipergunakan. Namun, jika dikaitkan dengan perjalanan kabupaten Limbangan sebagai cikal bakal kabupaten Garut, ada keterkaitan nama daerah yang bersentuhan dengan wilayah Cibatu, yakni kampung Gunung Limbangan dan Wanakerta.
Pada abad ke 17 M, sebelum orang-orang Eropa datang dan melakukan penguasaan atas wilayah Tatar sunda, di wilayah ini masih berdiri beberapa kerajaan besar dan beberapa keprabuan. Kerajaan besar terakhir yang pernah berdiri di tatar sunda adalah Kerajaan Sunda yang beribukota di Pakuan Pajajaran Bogor, atau lebih terkenal Kerajaan Pajajaran. Disaat kerajaan ini runtuh diserbu pasukan Banten (1579), wilayah tatar sunda membentuk keprabuan-keprabuan sendiri. Termasuk wilayah Garut, diantaranya Keprabuan Sundalarang (Sukawening), Keprabuan Cangkuang (Leles), Keprabuan Mandala Puntang / Timbanganten, Batuwangi (Singajaya), Kandangwesi (Bungbulang), dan Nagara Sancang (Pameungpeuk).
Setelah muncul Kerajaan Sumedang Larang sebagai penerus Pajajaran, beberapa keprabuan hilang dan ada yang muncul sebagai wilayah kekuasaan baru, yaitu Limbangan, Kadungora, Tarogong, Suci dan Panembong.
Pada tahun 1632, datanglah kekuasaan Mataram Jawa (raja Sultan Agung) yang banyak merubah pola kekuasaan di Tatar Sunda. Pada zaman Mataram ini wilayah Garut hanya terdapat dua kabupaten, yakni Kabupaten Limbangan (daerah kekuasaannya meliputi Limbangan, Wanakerta, Wanaraja), dan Kabupaten Timbanganten (daerah kekuasaannya, Cisurupan, Samarang, Tarogong, Bojongsalam).
Kabupaten Limbangan, sejak bupati Limansenjaya hingga Tumenggung Wangsareja (Wangsadireja II, 1805-1811) hanya memiliki tiga wilayah kekuasaan yakni, Limbangan, Wanakerta dan Wanaraja. Sebab, dari batas sungai Cimanuk (sasakbeusi) hingga Malangbong, masuk dalam kekuasaan kabupaten Sukapura (Tasikmalaya).
Pada tahun 1901, berdasarkan lembar Negara 1901 No. 327, wilayah-wilayah di Garut termasuk Malangbong menjadi wilayah kabupaten Limbangan, dan terbagi berdasarkan distrik-distrik. Distrik Wanakerta sendiri meliputi onderdistrik Cibatu, Nangkapait, Malangbong, Lewo, dan Leles. Sementara Cibatu sebagai kota Kewedanaan atau pusat pemerintah distrik.
Nama Cibatu muncul, ketika masa bupati Limbangan Nayawangsa (1678). Hadirnya penguasa Mataram ke Tatar sunda, dikhawatirkan pusaka-pusaka direbut oleh raja Mataram, maka diamankan di wilayah Wanakerta sebagai wilayah kekuasaan Limbangan, yaitu di kampung Gunung Limbangan.
Wilayah Wanakerta sendiri, merupakan daerah subur sumber air dan banyak bebatuan, sehingga menjadi tempat singgah Dalem Limbangan. Maka lahirlah nama Ci (cai; air) batu (batu) sejak itu hingga sekarang.
Kepopuleran Cibatu dari jaman ke jaman ternyata semakin besar. Berpindahnya ibu kota kabupaten Limbangan ke Garut (1913), stasion kereta api Cibatu merupakan sarana transfortasi utama, baik bagi masyarakat maupun kunjungan kenegaraan yang dipergunakan menuju kota kabupaten Garut, termasuk presiden pertama Ir. Soekarno ketika datang ke Kabupaten Garut, sehingga memberi gelar Garut sebagi kota Intan, di tanah Cibatu lah Soekarno pertama menginjakan kakinya.(Tata E. Ansorie)***
Kecamatan Cibatu pun memiliki sejarah perjuangan yang sangat panjang dimasa kemerdekaan republik Indonesia, sehingga wajar masyarakat Cibatu disebut paling pertama mendapatkan kemajuan perkembangan ekonomi, pendidikan dan teknologi, sebab kecamatan Cibatu merupakan pusat transit transportasi menuju seluruh wilayah kabupaten Garut dengan adanya stasion kereta api yang menjadi inti bagian sejarah kabupaten Garut itu sendiri.
Kemajuan intelektualitas masyarakat Cibatu telah menorehkan sejumlah nama yang berkifrah di berbagai bidang, seperti Achdiat Kartamihardja, penulis novel (Atheis,1908) terkenal di dunia yang kini bermukim di Australia. Surachman RM (1936), penyair liris yang melahirkan puisi-puisi lembut dalam bahasa Indonesia, walaupun sehari-hari bekerja sebagai Jaksa di Kejaksaan Agung. Mashudi mantan gubernur Jawa Barat (1962-1973), bahkan bupati kabupaten Bandung H. Obar Sobarna (sekarang) merupakan putra kelahiran Cibatu.
Kecamatan Cibatu juga menyandang atribut sebagai kota tua, kota pelajar dan kota pensiunan.
Asal usul nama Cibatu sampai saat ini masih simpang siur, sebab belum ada bukti sejarah yang menguatkan kapan nama Cibatu dipergunakan. Namun, jika dikaitkan dengan perjalanan kabupaten Limbangan sebagai cikal bakal kabupaten Garut, ada keterkaitan nama daerah yang bersentuhan dengan wilayah Cibatu, yakni kampung Gunung Limbangan dan Wanakerta.
Pada abad ke 17 M, sebelum orang-orang Eropa datang dan melakukan penguasaan atas wilayah Tatar sunda, di wilayah ini masih berdiri beberapa kerajaan besar dan beberapa keprabuan. Kerajaan besar terakhir yang pernah berdiri di tatar sunda adalah Kerajaan Sunda yang beribukota di Pakuan Pajajaran Bogor, atau lebih terkenal Kerajaan Pajajaran. Disaat kerajaan ini runtuh diserbu pasukan Banten (1579), wilayah tatar sunda membentuk keprabuan-keprabuan sendiri. Termasuk wilayah Garut, diantaranya Keprabuan Sundalarang (Sukawening), Keprabuan Cangkuang (Leles), Keprabuan Mandala Puntang / Timbanganten, Batuwangi (Singajaya), Kandangwesi (Bungbulang), dan Nagara Sancang (Pameungpeuk).
Setelah muncul Kerajaan Sumedang Larang sebagai penerus Pajajaran, beberapa keprabuan hilang dan ada yang muncul sebagai wilayah kekuasaan baru, yaitu Limbangan, Kadungora, Tarogong, Suci dan Panembong.
Pada tahun 1632, datanglah kekuasaan Mataram Jawa (raja Sultan Agung) yang banyak merubah pola kekuasaan di Tatar Sunda. Pada zaman Mataram ini wilayah Garut hanya terdapat dua kabupaten, yakni Kabupaten Limbangan (daerah kekuasaannya meliputi Limbangan, Wanakerta, Wanaraja), dan Kabupaten Timbanganten (daerah kekuasaannya, Cisurupan, Samarang, Tarogong, Bojongsalam).
Kabupaten Limbangan, sejak bupati Limansenjaya hingga Tumenggung Wangsareja (Wangsadireja II, 1805-1811) hanya memiliki tiga wilayah kekuasaan yakni, Limbangan, Wanakerta dan Wanaraja. Sebab, dari batas sungai Cimanuk (sasakbeusi) hingga Malangbong, masuk dalam kekuasaan kabupaten Sukapura (Tasikmalaya).
Pada tahun 1901, berdasarkan lembar Negara 1901 No. 327, wilayah-wilayah di Garut termasuk Malangbong menjadi wilayah kabupaten Limbangan, dan terbagi berdasarkan distrik-distrik. Distrik Wanakerta sendiri meliputi onderdistrik Cibatu, Nangkapait, Malangbong, Lewo, dan Leles. Sementara Cibatu sebagai kota Kewedanaan atau pusat pemerintah distrik.
Nama Cibatu muncul, ketika masa bupati Limbangan Nayawangsa (1678). Hadirnya penguasa Mataram ke Tatar sunda, dikhawatirkan pusaka-pusaka direbut oleh raja Mataram, maka diamankan di wilayah Wanakerta sebagai wilayah kekuasaan Limbangan, yaitu di kampung Gunung Limbangan.
Wilayah Wanakerta sendiri, merupakan daerah subur sumber air dan banyak bebatuan, sehingga menjadi tempat singgah Dalem Limbangan. Maka lahirlah nama Ci (cai; air) batu (batu) sejak itu hingga sekarang.
Kepopuleran Cibatu dari jaman ke jaman ternyata semakin besar. Berpindahnya ibu kota kabupaten Limbangan ke Garut (1913), stasion kereta api Cibatu merupakan sarana transfortasi utama, baik bagi masyarakat maupun kunjungan kenegaraan yang dipergunakan menuju kota kabupaten Garut, termasuk presiden pertama Ir. Soekarno ketika datang ke Kabupaten Garut, sehingga memberi gelar Garut sebagi kota Intan, di tanah Cibatu lah Soekarno pertama menginjakan kakinya.(Tata E. Ansorie)***
Mesjid Agung Bagian Sejarah Kabupaten Garut
Jika berkunjung ke kota Garut, baik masyarakat Garut itu sendiri maupun dari luar, tentunya belum pas jika tak singgah di Mesjid Agung. Suasananya yang teduh dan lokasinya yang strategis, tak jauh dari pusat keramaian membuat masjid yang satu ini kerap menjadi tempat transit bagi para pelancong dalam negeri untuk shalat dan beristirahat sejenak. Pilihan mereka tidak keliru. Terlebih di area halaman masjid dan sekitar alun-alun Garut terdapat sejumlah pedagang makanan yang bisa kita pilih untuk mengisi perut setelah lelah menempuh perjalanan. Apalagi pada bulan Ramadhan. Menjelang senja, tempat ini menjadi salah satu lokasi favorit bagi para wisatawan lokal dan penduduk kota Garut untuk mencari menu tajil.
Berbicara mengenai Masjid Agung Garut sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari tapak-tapak sejarah kota maupun Kabupaten Garut itu sendiri. Setelah sempat dibubarkan pada era Daendels akibat rendahnya produksi kopi dari daerah ini, Kabupaten Limbangan yang menjadi cikal bakal Garut akhirnya dibentuk kembali sekitar tahun 1813. Karena Suci yang sebelumnya menjadi ibukota dianggap sudah tidak layak, maka wilayah yang terletak sekitar 5 Km dari arah Suci menjadi pilihan.
Seperti konsep yang banyak diterapkan di mayoritas kota-kota di Indonesia, dimana pusat kota biasa terdiri dari alun-alun, masjid, penjara, pusat pemerintahan, dll, pemerintah zaman itu pun menerapkan hal yang sama pada kota ini. Maka bila ditilik dari sisi sejarah, Masjid Agung Garut ini termasuk salah satu masjid tertua di bumi Priangan.
Wajah masjid yang bisa kita lihat saat ini juga bukan rupa yang sama dengan Masjid Agung Garut pada awal abad ke 19. Perubahan mencolok terletak pada bentuk kubah. Seperti umumnya masjid di Priangan termasuk Masjid Agung Bandung, Masjid Agung Garut pada masa itu pun menganut konsep tajuk tumpang tiga atau lebih dikenal dengan atap “nyungcung.” Itulah mengapa di tanah sunda jaman baheula (dulu – red) sering kita dengar istilah “ka bale nyungcung” untuk menggambarkan pasangan yang akan melakukan akad nikah di masjid agung.
Masjid yang terletak di Jl. Ahmad Yani, Garut ini entah sudah berapa kali mengalami renovasi. Namun yang tercatat pada batu prasasti di Masjid tersebut menyatakan bahwa renovasi pernah dilakukan pada 10 November 1994 dan rampung pada 25 Agustus tahun 1998.
Semoga saja keberadaan salah satu saksi bisu sejarah peradaban kota Garut ini bisa terus terpelihara. Tetap nyaman, asri dan tidak terdesak oleh bangunan lain yang berpotensi merusak wajah masjid itu sendiri. (Tata E. Ansorie)***
Berbicara mengenai Masjid Agung Garut sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari tapak-tapak sejarah kota maupun Kabupaten Garut itu sendiri. Setelah sempat dibubarkan pada era Daendels akibat rendahnya produksi kopi dari daerah ini, Kabupaten Limbangan yang menjadi cikal bakal Garut akhirnya dibentuk kembali sekitar tahun 1813. Karena Suci yang sebelumnya menjadi ibukota dianggap sudah tidak layak, maka wilayah yang terletak sekitar 5 Km dari arah Suci menjadi pilihan.
Seperti konsep yang banyak diterapkan di mayoritas kota-kota di Indonesia, dimana pusat kota biasa terdiri dari alun-alun, masjid, penjara, pusat pemerintahan, dll, pemerintah zaman itu pun menerapkan hal yang sama pada kota ini. Maka bila ditilik dari sisi sejarah, Masjid Agung Garut ini termasuk salah satu masjid tertua di bumi Priangan.
Wajah masjid yang bisa kita lihat saat ini juga bukan rupa yang sama dengan Masjid Agung Garut pada awal abad ke 19. Perubahan mencolok terletak pada bentuk kubah. Seperti umumnya masjid di Priangan termasuk Masjid Agung Bandung, Masjid Agung Garut pada masa itu pun menganut konsep tajuk tumpang tiga atau lebih dikenal dengan atap “nyungcung.” Itulah mengapa di tanah sunda jaman baheula (dulu – red) sering kita dengar istilah “ka bale nyungcung” untuk menggambarkan pasangan yang akan melakukan akad nikah di masjid agung.
Masjid yang terletak di Jl. Ahmad Yani, Garut ini entah sudah berapa kali mengalami renovasi. Namun yang tercatat pada batu prasasti di Masjid tersebut menyatakan bahwa renovasi pernah dilakukan pada 10 November 1994 dan rampung pada 25 Agustus tahun 1998.
Semoga saja keberadaan salah satu saksi bisu sejarah peradaban kota Garut ini bisa terus terpelihara. Tetap nyaman, asri dan tidak terdesak oleh bangunan lain yang berpotensi merusak wajah masjid itu sendiri. (Tata E. Ansorie)***
Langganan:
Komentar (Atom)
